Pangeran Plester & Lady GJ Bagian 2
Bagian 2
“Ya, Sketsa Kaesa, kamu baris di sebelah kanan Zidnil!”, kata Pak Takari, wakil kepala sekolah yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping podium dan menata barisan para siswa “tertuduh”.
Kayaknya Echa gak salah dengar, telinganya kan masih sehat, walopun gak 100% sehat lho. Lagian pak kepala sekolah juga gak akan mungkin salah baca deh. Keringat Echa mulai bercucuran. Selain karena panas, juga karena tegang.
Pak kepala sekolah melanjutkan lagi membaca nama-nama siswa yang akan disuruh maju ke depan seperti Echa. Echa acuh saja, dia sibuk bergulat dengan pikirannya. Bingung, takut, tegang dan cemas bercampur menjadi satu. Padahal kan Echa pengen melewati upacara hari ini dengan tenang dan santai, sambil mengingat-ingat rumus kimia yang baru dia pelajari 10 menit yang lalu. Duh gusti, kenapa sih mesti ada pelajaran kimia. Echa men-judgement kimia. Mata pelajaran yang udah jadi musuh bebuyutannya sejak dari zaman nenek moyangnya itu. Wajah Echa jadi melas banget, jadi gak tega deh liatnya. Padahal kan tadi Echa udah mirip gambaran little devil, merah, kecil, bertaring, bertanduk dan berekor. Wah, Echa udah mulai lebay mode on on nih.
“Kenapa Cha?”
Echa menoleh ke arah sumber suara tadi. Ternyata Zidnil, anak yang berdiri di sebelah kanan Echa itu. Zidnil tersenyum pada Echa, nyengir lebih tepatnya.
Echa Cuma mesem, “gak kenapa-kenapa.”
Itu Zidnil, nama lengkapnya Mohammad Zidnil Ma’arif. Panggilan sebenarnya sih I’il, tapi anak –anak lebih sering manggil dia -ini nama keren lho- Kuntil. Dia teman Echa pas masih SMP dulu. Anaknya sih keren abis. Sumpah deh. Semua orang -termasuk Echa sendiri- gak sanksi kalo Kuntil itu keren banget. Dia tinggi semampai, proposional, terus wajahnya rada oriental gitu. Mirip sama orang Jepang. Secara, bokapnya kan masih keturunan Jepang, jadi dia masih kecipratan darah Jepang donk. Selain itu, dia juga stylish dan pinter. Dengar-dengar sih selalu masuk 3 besar di kelasnya. Dia jurusan TKJ (Tekhnik Komunikasi dan Jaringan) kelas B. Satu Jurusan sama Echa, tapi Echa di kelas A.
Semua cewek di sekolah mati – matian ngejar dia. Pokoknya dia tuh cowok most wanted di sekolah. Tapi, Echa rada ilfil ma dia, soalnya gak cuman sekali Echa mergokin I’il membersihkan hidungnya dengan jari jemarinya alias ngupil dalam bahasa kerennnya. Terus upilnya itu ditempelin di sembarang tempat. Kesannya jorok banget, padahal Echa kan paling anti ma yang jorok-jorok.
Echa menoleh kiri dan kanan. Dia bersyukur banget, ternyata banyak juga yang dipanggil. Jadi kan dia merasa gak sendirian. Tapi tetep aja dari tadi benak Echa dipenuhi tanda tanya besar. “Ada apakah ini sebenarnya?”Echa gak berani bertanya. Dia diam aja. Gak pa-pa deh, ntar juga tau.
Echa menengok ke kiri, memperhatikan setiap wajah yang dia temui. Siapa tau ada yang kenal. Di sebelah kirinya tepat, berdiri seorang cewek. Hem, cantik, kulitnya kuning langsat dan dia lebih tinggi dari Echa –Echa jadi merasa minder nih. Echa memperhatikannya, cewek itu menoleh pada Echa –mungkin dia bisa merasakan hawa pembunuh dari tatapan Echa, hehehehe ....- dan mereka bertemu pandang. Woa, ternyata itu Dina, teman Ekskul bahasa Jepang Echa.
“Hehehe... Dina toh, tak kirain siapa”, Echa nyengir kuda, nah lho. Echa jadi salting, ketahuan ngliatin muka orang. Siapa suruh ngliatin orang aja sampai mata kayak mau copot gitu.
Dina cuma tersenyum simpul. Dina itu cewek yang anggun dan cuek. Tinggi, cantik dan jago banget gambarnya. Dina itu salah satu cewek yang masuk jajaran cewek most wanted di sekolah, dia jurusan MM (Multi Media).
Tingkah Echa udah mulai Gaje nih. Kepalanya dimiring-miringin biar bisa liat wajah-wajah lain di sebelah kiri Dina. Echa berhasil liat dan dia tahu 2 anak lain di sebelah Dina.
Tepat di sebelah kiri Dina, nomor 4 dari kanan, ada Tonis. Dia anak jurusan listrik A. Echa sih kenal. Dia dulu tetangga Echa sebelum Echa pindah sewaktu masih SD. Tonis itu anak band. Jadi rada-rada sombong gitu deh. Apalagi Bandnya udah lumayan terkenal di Kota Tuban ini dan sering manggung di kafe-kafe. Dalam Bandnya yang bernama “Alkhemist” itu, dia megang melodi. Jadi gak usah ragu kalo dia jago banget maen gitarnya. Sambil merem pun dia bisa. Tonis sih emang ganteng anaknya. Masuk jajaran cowok most wanted juga, tapi ratingnya masih kalah ma Kuntil. Jujur aja, Echa gak suka ma dia, sombong sih. Di sekolah aja gak pernah nyapa, walopun dulu pernah jadi temen. Jadi, Echa mah sebodo amat ma dia.
Selanjutnya , di sebelah kiri Tonis ada Mae. Kesan pertama bertemu dia adalah cantik dan manis. Mae itu miss fashionista. Pokoknya merhatiin penampilan banget deh. Tapi wajar aja sih, dia kan model. Dia sering jadi wakil sekolah buat lomba-lomba modelling dan gak jarang pula dia jadi pemenangnya. Yang lebih asyik lagi, dia itu juga olahragawati. Dia jadi pemain basket inti di tim basket sekolah. Echa sih gak begitu kenal ma dia. Soalnya Mae itu anak jurusan Kimia dan kelasnya seringkali berjauhan dengan kelas Echa.
Echa mulai miring-miring lagi, mau cari tau siapa-siapa lagi yang dipanggil ma pak kepala sekolah. Tapi . . . . . . . .

0 komentar