Pangeran Plester & Lady GJ Bagian 3
Bagian 3
“Echa, kamu sedang apa?”, Pak Takari udah negur Echa duluan, jadinya Echa cuma bisa ngengir dan ngluarin jurus andalannya, paku bumi, alias berdiri anteng di tempat. Syukurin. Dia jadi gak bisa noleh lagi. Soalnya Pak Takari sekarang merhatiin dia terus, biar Echa gak lagi tengak tengok gak jelas kayak tadi. Keliatan gak sopan.
“Baiklah anak-anak sekalian, para siswa yang ada di depan kalian ini adalah para anggota OSIS baru”. Pak kepala sekolah menutup mapnya –yang beliau gunakan sebagai data untuk memanggil para siswa “tertuduh”- dan menyerahkannya kepada Pak Takari. “Para staf guru akan melakukan rapat untuk menentukan susunan keanggotaan OSIS, sehingga diharapkan murid-murid belajar sendiri dengan tenang di kelas masing-masing pada jam pelajaran 1 dan 2, Susunan anggota OSIS akan diumumkan melalui radio sekolah pada saat pergantian jam pelajaran ke-3”.
Echa setengah lega, ulangan kimia dipending. Jadinya kan Echa bisa belajar lebih lama lagi buat ulangan kimia nanti. 2 hari lagi baru ada jadwal pelajaran kimia. Lumayan bisa nyicil belajarnya, biar gak bingung kayak hari ini. Soalnya kalo sindrom bingung akutnya Echa lagi kumat pasti penyakit mudah marahnya juga ikutan kumat. Emang makhluk yang satu ini rada-rada ajaib.
Pak Takari membubarkan barisan. Echapun segera kembali ke dalam barisannya semula. Teman-temannya pada nyalamin Echa, bahkan samapai ada yang sungkem. Dikiranya ini acara kawinan kali ya, pake acara sungkem-sungkeman segala. Dalam keadaan seperti ini, Echa Cuma melongo –busyed, daritadi melongo terus, apa gak takut ada laler masuk- cengar-cengir gak jelas sambil garuk-garuk kepala. Kebayang gak gimana jeleknya Echa.
Upacara senin ini diakhiri dengan kejadian heboh yang menegangkan. 2 jam pelajaran kosong ini, Echa dikerubutin teman-temannya yang tiba-tiba berubah jadi fans berat Echa. Ada senengnya, ada sedihnya juga sih. Seneng, karena berasa seperti artis dadakan. Tapi sedih karena teman-temannya pada gak mau berhenti ngerubutin Echa, yang udah mulai kehabisan nafas. Mereka tetep keukeuh gak mau kembali ke bangku masing-masing. Walopun Echa udah ngibas-ngibasin tangan ngusir mereka. Katanya sih mereka pengen ketularan hawa-hawa “OSIS-nya” Echa. Plis deh, pada Gaje semua. Padahal kan Echa pengen bubuk selama jam kosong ini.
Tapi, kalo dipikir-pikir, ke-Gaje-an teman-teman Echa ini timbul bukan karena tanpa alasan. Gimana gak, OSIS SMK PELITA HARAPAN ini merupakan siswa-siswi pilihan yang dipilih dan dinilai langsung oleh Dewan Guru selama setahun. Proses penilaiannya udah dimulai ketika hari pertama di tahun ajaran baru kelas 1 dan ketika menginjak tahun ke-2, diumumkanlah siapa-siapa aja yang menurut Dewan Guru layak menjadi anggota OSIS selanjutnya.
By the way jangan ditanya, aspek yang dinilai banyak banget dan proses penilaiannya pun ribet-bet kayak benang ruwet. Haduh, Echa mah gak mau mikir yang ribet-ribet, ketinggian, otaknya gak sampai, lemot sih. Kembali pada topic, jadi kesimpulannya, OSIS itu orang yang paling berpengaruh -baca : keren- di sekolah, selain para Guru. Mereka bakal jadi pusat perhatian dan trendsetter – ini bahasanya kok lebay banget ya?- juga dapat kepercayaan penuh dari Guru.
Kegiatan apapun di sekolah yang udah dapat ijin dari anggota OSIS bakal 99,99% di setujui sama Dewan Guru. Tapi jadi anggota OSIS itu tanggung jawabnya gede. Apalagi OSIS inti, kalo salah dikit aja ngambil keputusan dan berdampak negatif bagi kehidupan sekolah, kepala taruhannya. Hahahahahaha . . . . . gak dink, cuma bercanda. Gak sampai segitunya kok,. Tapi mang berat baget sanksinya. Makanya, Echa berharap dia cuma jadi pembantu umum atau seksi-seksi yang gak begitu penting di keanggotaan OSIS. Cari amannya aja.
Echa lemes banget, kepalanya ditaruh di meja. Echa lagi mikir, kenapa sih kok mesti dia yang jadi anggota OSIS. Dia kan gak cakep. Lihat! Dari ujung kaki hingga ujung kepala, Cuma 2 lesung di pipinya yang bisa dia banggain. Tingginya Cuma 156 cm dan tanyalah pada siapapun di dunia ini. Mereka pasti akan menjawab kalo Echa pendek untuk ukuran remaja kelas 2 SMK. Rambutnya berwarna coklat kemerah-merahan –ini warna asli dan udah kerap kali Guru menegurnya, mengira Echa mengecat rambutnya itu- panjangnya sebahu, tak terawatt dan selalu dikuncir awut-awutan. Hidungnya gak mancung, tubuhnya gak seksi dan matanya minus 3 berkacamata. Echa benci itu semua. Tapi dia masih tetap bersyukur dan selalu mencoba untuk berfikir positif. Untung dia gak buntung, gak buta, gak pincang dan gak-gak yang lainnya. Intinya keadaannya lebih baik dari keadaan orang-orang yang kurang beruntung di luar sana. Hanya saja, ada 1 bagian tubuh lainnya yang membuat dia benar-benar sulit banget buat bersyukur, yaitu giginya yang “offside” -baca : tonggos- gag tonggos-tonggos amat sih tapi tetep aja itu bikin Echa minder setengah mati. Kalo Echa lagi mingkem rapet sih gak begitu keliatan, tapi kalo dia lagi ketawa ato mangap-mangap, tentu aja keliatan. Echa tertekan kalo teman-temannya ngolok-ngolok dia karena hal itu. Dia sering meratapi nasib dan sering kali berdoa semoga “kelebihan-nya” itu menjadi normal aja. Ternyata kelebihan itu gak selalu bagus ya.
Echa mendengus panjang, “Udah deh, pada minggir semua sana! Kembali ke habitat kalian masing-masing. Aku pengen tidur nih.” Echa mendorong teman-temannya satu per satu supaya jauh-jauh darinya. Serasa gak punya privasi deh.
“Kamu tuh ya, tidur melulu kerjaannya. Seneng dikit gitu kenapa, kan enak bisa jadi anggota OSIS”, kata Suka, memencet hidung Echa. Kayaknya gemes banget ma Echa.
Echa mencibir, “Enak apanya? Tanggung jawabnya gede tau.” Dia mengelus-ngelus hidungnya yang memerah akibat cubitan Suka. Suka mang bener-bener “suka” menyiksa. Echa geleng-geleng kepala.
“Kata-kata Suka is true Echa”, Defry, teman baik Echa yang satunya, membenarkan omongan Suka. Defry mang gandrung banget ma bahsa Inggris. Katanya sih jago, tapi gak tau kenapa bahasa Inggrisnya campur aduk gitu. Bikin orang gak percaya.
“Ah, ikut-ikutan aja kamu itu Def”, Echa melirik Defry. Lirikan Echa mungkin bisa mutusin kolornya Defry saking tajemnya. “Kalian itu cuma mikirin enaknya doang.”
“Tapikan tetep aja masih banyakan enaknya Cha! Coba aja boleh dihibahkan, aku mau kok gantiin kamu Cha”, mata Suka berbinar-binar, kedua tangannya dikalungkan di leher Echa. Sok manja.
“Yee . . . . bukan you aja, ai juga mau. I wanna it”, si Defry ikutan nimbrung.
“Makan sana tuh jabatan OSIS. Silahkan diperebutkan. Aku mau tidur.” Echa menguap, gak peduli dengan kedua temannya itu, yang kayaknya udah bener-bener gemes setengah mati ma dia.
Echa meletakkan tasnya di bangku, tepat di depannya. Dia memeluk tasnya itu dan membuatnya sebagai bantal untuk tidur. Suka dan Defry gentian jitak kepala Echa. Echa cuma melet aja. Terserah deh, batinnya.
*

0 komentar